Rabu, 07 September 2011

Untuk Apa Sekolah Demokrasi?

UNTUK APA SEKOLAH DEMOKRASI ?
Oleh : Amru Alba Abqa, S.Ap
Sekolah merupakan sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa atau murid dibawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki sistem pendidikan formal yang wajib dikuti oleh warganya, seperti di Indonesia ada wajib belajar pendidikan dasar 9 (sembilan) tahun. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini juga bervariasi tergantung negara masing-masing tetapi pada umumnya terdiri dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi.
Sedangkan istilah demokrasi kalau kita merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad V Sebelum Masehi di Athena Yunani berasal dari kata demos “rakyat” dan kratos “kekuasaan”. Para ahli telah membuat lebih dari dua ratus definisi tentang demokrasi, namun pemahaman yang paling umum, sederhana dan yang diketahui oleh hampir semua orang, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung atau melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Menurut statusnya sekolah terbagi dua, pertama Sekolah negeri, yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan perguruan tinggi. Kedua Sekolah swasta, yaitu sekolah yang diselenggarakan oleh non-pemerintah, penyelenggaranya berupa badan atau yayasan pendidikan yang sampai saat ini badan hukumnya masih berupa rancangan peraturan pemerintah.
Sedangkan Sekolah Demokrasi berbeda dari dua status diatas, proses pembelajaran di Sekolah Demokrasi berbeda dengan proses pembelajaran pada sekolah formal. Sekolah Demokrasi dilakukan untuk membuat terobosan dalam proses pembelajaran demokrasi. Para peserta berinteraksi antar peserta, nara sumber dan fasilitator seperti masyarakat yang sedang bertransformasi menjadi lebih demokratis. Proses belajar-mengajar di Sekolah Demokrasi tidak hanya in class, tetapi juga out class dengan melakukan kunjungan ke redaksi surat kabar lokal, menyampaikan gagasan menggunakan media massa elektronik maupun cetak (talk show) dan dialog dengan masyarakat bawah.
Launching Sekolah Demokrasi Aceh Utara telah dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2010 di Convention Hall Hotel Lido Graha Lhokseumawe ditandai dengan Seminar bertopik “Refleksi Kondisi Ekonomi, Sosial Budaya dan Politik Pasca 5 tahun Perdamaian dan Tantangan Demokrasi di Aceh”. Dibukanya Sekolah Demokrasi di Aceh Utara setidaknya sebagai solusi untuk membangun dan membangkitkan semangat elemen masyarakat Aceh yang kurang memahami arti demokrasi secara utuh. Sebagian masyarakat kita, hanya memahami demokrasi manakala ada Pemilukada dan Pemilu Legislatif saat para politisi mulai mendekati rakyatnya, padahal arti demokrasi secara utuh tidaklah demikian (Sambung Rasa Pro 3 Berjaringan RRI Lhokseumawe, 01 Januari 2011).
Menurut Koordinator Sekolah Demokrasi, Edi Fadhil, “Sekolah Demokasi Aceh Utara adalah angkatan VIII di Indonesia, peserta sekolah itu berasal dari partai politik, aktivis LSM, tokoh masyarakat, aktivis mahasiswa, unsur pemerintahan, pebisnis, media (wartawan), dan unsur lainnya”. Tujuan sekolah ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang demokrasi. Sehingga nanti diharapkan akan tercapainya kondisi demokrastis di Aceh Utara (Serambi Indonesia, 17 Januari 2011). Kalau di Aceh, Sekolah Demokrasi ini adalah angkatan I dengan jumlah peserta 35 orang. Adapun perinciannya sebagai berikut : aktivis LSM, aktivis mahasiswa dan tokoh masyarakat 21 orang (31,4%), perempuan 10 orang (28,5%), partai politik 4 orang (11,4%), unsur pemerintah (pegawai negeri) 4 orang (11,4%), pebisnis 4 orang (11,4%), wartawan 1 orang (2,8%) dan TNI 1 orang (2,8%).
Sekolah Demokrasi menetapkan sasaran pada 2 (dua) tingkatan, institusional dan individual. Pada tingkat institusional, Sekolah Demokrasi diharapkan : 1). Menghasilkan data base dinamis dan pemetaan komprehensif mengenai Kabupaten Aceh Utara, 2). Meluluskan orang-orang muda strategis yang mempunyai kemampuan dan komitmen, 3). Merancang dan mengembangkan Komite Komunitas yang akan menjadi wahana bagi para aktor dalam transformasi demokrasi di Aceh Utara dan 4). Memfasilitasi jaringan dinamis antara pilar-pilar demokrasi di Aceh Utara di antaranya lembaga politik (partai), politisi, komunitas bisnis, media massa, dan tokoh masyarakat setempat.
Sedangkan pada tingkat individual, peserta Sekolah Demokrasi diharapkan : 1). Dapat mengembangkan kemampuan berinteraksi diantara pilar-pilar demokrasi di Aceh Utara, 2). Mengembangkan nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan demokrasi, 3). Mengartikulasikan agenda demokrasi di Aceh Utara melalui artikel di media massa, talk show di radio, program partisipasi publik atau acara dengar pendapat dengan DPRK Aceh Utara dan 4). Merencanakan dan melaksanakan satu program atau kegiatan pengembangan masyarakat.

Sekolah Demokrasi adalah upaya penting bagi peningkatan kualitas wacana demokasi di Aceh Utara. Pengetahuan dan nilai ini membantu para peserta dalam kehidupan sosial, politik, dan hubungan kemasyarakatan. Proses yang berjalan pada Sekolah Demokrasi menempatkan peserta bukan sebagai obyek tetapi sebagai subyek yang sama-sama memberi dan menerima. Sekolah Demokrasi adalah asset penting bagi Aceh Utara karena mampu menghasilkan sumber daya manusia yang tidak saja memiliki otak tetapi juga memiliki pengetahuan, nilai dan keterampilan.
Salah satu tujuan diselenggarakannya Sekolah Demokrasi adalah untuk memperkuat kualitas wacana politik. Karena idialnya demokrasi harus ditopang oleh partisipasi politik yang memenuhi sekurang-kurangnya dua persyaratan yaitu luasnya partisipasi politik dan kualitas wacana politik atau prosedural dan substansi (Juergen Habermas). Di Aceh, demokrasi prosedural memang telah berjalan walau masih banyak kekurangannya, diantaranya ditandai dengan pemilihan langsung gubernur, wakil gubernur, bupati, wakil bupati, walikota, wakil walikota serta pemilu legislatif, namun demokrasi substansi belum berjalan seperti harapan. Program-program untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat masih belum bisa kita katakan berhasil. Buktinya, Aceh adalah propinsi termiskin ketujuh di Indonesia dengan prosentasi 20,98% penduduk miskin dari 4.486.570 jiwa penduduk Aceh, angka kemiskinan penduduk Aceh masih berada dibawah rata-rata persentase nasional yang berkisar pada angka 13,33% (Badan Pusat Statistik Nasional tahun 2010).
Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang, warga negara mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama dalam mengatur pemerintahan. Dalam konteks Aceh, proses perdamaian setelah penandatanganan kesepakatan (MoU) damai Helsinki terus berjalan dan demokrasi yang kuat sedang tumbuh di Aceh dengan lahirnya partai politik local (Ann Marie Bolin Pennegard). Sedangkan menurut Gus Dur : “Landasan demokrasi adalah keadilan”, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, otonomi dan kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Demokrasi menjadi penting karena menjamin secara normatif martabat manusia tetapi sekaligus menjadi instrument politik yang paling efektif untuk secara operasional menyelamatkan dan mempertahankan martabat setiap orang. Demokrasi dapat dipastikan sebagai penemuan manusia yang paling penting pada abad keduapuluh (Amartya Sen dalam Development as Freedom). Demokrasi merupakan perjuangan politik tetapi karena demokrasi adalah juga suatu komunikasi, maka demokrasi tidak bisa tidak, juga suatu perjuangan pendidikan politik secara khusus dan bagian pendidikan nasional secara umum. saat ini tidak ada negara yang tidak menyebut dirinya demokratis walau tingkah laku aparat dan rakyatnya tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi.
Penulis adalah Peserta Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Ketua Perhimpunan Masyarakat Tani Aceh (PERMATA) Aceh Utara.Email:albaabqa@gmail.com.Fb:Amru Alba Abqa

Sumber : Majalah Rangkang Demokrasi-Sekolah Demokrasi Aceh Utara. Kerjasama LSM SEPAKAT & Komunitas Indonesia Untuk Demokrasi (KID) Jakarta Edisi I. Baca : www.sekolahdemokrasi.sepakat.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar